Berdamai dengan Rasa Marah

Setiap kita, sebagai insan manusia yang masih terus bernapas, pasti akan bertemu dengan berbagai hal dalam kehidupan. Tentu saja, tidak hanya hal-hal yang menyenangkan, yang kita harapkan, atau yang kita rencanakan sedemikian rupa saja yang akan kita jumpai. Tak ayal berbagai hal yang tak terduga, yang tidak kita harapkan justru lebih sering terjadi dan membuat kita pusing tujuh keliling. Saat hal-hal yang tidak kita harapkan terjadi, berbagai perasaan muncul di dalam diri kita. Sedih, kecewa, dan marah menjadi teman setia yang mengiringi berbagai hal yang tidak kita harapkan. Oleh karena itu, sering kali kita menolak berbagai perasaan tersebut karena pengalaman tidak menyenangkan yang mengiringinya.

Rasa marah adalah salah satu perasaan yang paling sering kita label sebagai musuh. Kita tidak menginginkan ia hadir atau mampir dalam diri kita. Kita menganggap rasa marah selayaknya binatang buas yang dapat menerkam siapa saja tanpa ampun. Ketakutan yang muncul akan efek yang terjadi jika kita membiarkan rasa marah itu ada di dalam diri kita membuat kita melakukan berbagai cara untuk mengenyahkannya. Belum lagi kita terbiasa dengan didikan lingkungan bahwa marah itu dosa, marah itu tidak baik, marah itu perbuatan yang tidak terpuji, dll.

Beberapa dari kita memilih menolak rasa marah dan menggantinya dengan perasaan yang kita label “lebih positif”. Sebagian lain memilih untuk memendamnya, menekannya kuat-kuat, atau justru mengabaikannya dengan memilih mengalihkan pada kegiatan-kegiatan yang dapat membuat kita lupa akan perasaan tersebut atau dengan meleburkan perasaan marah kita dalam logika berpikir kita.

Apakah dengan berbuat demikian, perasaan marah itu akan hilang?

Apa yang terjadi justru sebaliknya. Semakin kita menolaknya, rasa marah akan semakin menjadi-jadi. Mungkin beberapa dari kita berhasil menahannya dan menekannya untuk sementara waktu hingga suatu saat ada suatu hal yang memicu rasa marah yang lebih besar muncul tanpa kita sadari. Seperti pepatah “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”, demikian pula rasa marah yang kita pendam terus menerus tanpa kita sadari suatu saat dapat meledak.

angry-05.jpg

Sejatinya rasa marah sama seperti perasaan yang lain. Ia ada atau diciptakan dengan tujuan dan fungsi tertentu. Selayaknya perasaan yang lain, rasa marah ada untuk dapat “dirasakan”. Rasa marah juga tidakselamanya akan hadir terus menerus dalam diri kita. Roda yang berputar dapat menjadi contoh kehidupan kita yang terus berputar, atas-bawah, untung-rugi, demikian pula halnya dengan rasa marah yang silih berganti dengan rasa senang. Kita tidak akan selamanya marah, seperti halnya kita tidak akan selamanya senang. Kita juga tidak dapat terus-menerus membentengi diri dari perasaan marah karena sangat wajar seseorang merasakan kemarahan. Sering kali kita menolak atau melarang diri kita untuk merasa marah dan tanpa sadar memendamnya di dalam diri kita. Kita tidak mengizinkan ia hadir. Kita mengabaikannya atau mengusirnya jauh-jauh dari diri kita. Kita tidak berusaha berdamai dengan rasa marah, akan tetapi kita menganggapnya sebagai musuh kita. Kita menolaknya karena kita tidak tahu apa yang harus kita perbuat saat merasakannya. Bukan sebaliknya, mencari tahu apa yang dapat kita lakukan terkait perasaan marah yang muncul tersebut.

Bagaimana berdamai dengan rasa marah dalam diri kita?

  • Ketika kita menyadari saat kemarahan hadir di dalam diri, segeralah menenangkan diri dan tidak terlarut dengan rasa marah. Kita dapat mengatur napas terlebih dahulu sebelum kita melihat lebih jauh ke dalam diri tentang perasaan marah tersebut. Mengatur ritme napas dapat membantu kita mengambil jarak dan mengamati tanpa terpengaruh dengan apa yang kita rasakan.
  • Setelah kita merasa lebih tenang, terimalah keberadaan rasa marah di dalam diri. Sering kali tanpa disadari, kita menyangkal bahwa kita merasa marah. Menolak atau menyangkal rasa marah tidak akan menghentikannya, namun dengan mengakui bahwa kita merasa marah, rasa marah itu akan mereda ibarat binatang yang menjadi lebih jinak.
  • Kita dapat merawat rasa marah ibarat merawat luka untuk semakin pulih dan sembuh. Kita dapat melakukannya dengan tarikan dan embusan napas kita. Seiring menarik napas, kita dapat merasakan kemarahan yang ada di dalam diri. Seiring dengan mengembuskan napas katakan “Saya merawatmu rasa marahku”. Terus ulangi hingga merasa cukup. Apabila perlu, temuilah rasa marah itu dalam waktu hening dan ajaklah berdialog untuk lebih memahami apa yang rasa marah itu sebenarnya inginkan dari diri kita. Melalui cara ini, kita juga akan lebih menyadari langkah konstruktif yang dapat kita lakukan terhadap rasa marah yang kita rasakan.
  • Berterima kasihlah pada rasa marah kita karena ia hadir untuk mengajarkan sesuatu pada kita. Ia hadir bukan karena kebetulan namun ia hadir agar kita semakin menyadari bahwa ada luka di dalam diri kita yang perlu dirawat sehingga kita dapat bertumbuh menjadi pribadi yang semakin baik.

 

“Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa;

telisiklah dalam hatimu di tempat tidurmu, dan tetaplah tenang”

King David

 

“You will not be punished for your anger, you will be punished by your anger”

Buddha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s