Berdamai dengan Ketidaknyamanan

Sesi Hening Bersama

Hari, tanggal : Sabtu, 18 Maret 2017

Pukul               : 14.00-16.00 WIB

Tempat           : Charisma Consulting

Pada umumnya, kita cenderung menolak hal-hal yang membuat kita tidak nyaman. Hal-hal tersebut dapat berupa situasi yang tidak nyaman, orang yang membuat kita merasa tidak nyaman, ataupun pikiran-pikiran dan perasaan yang membuat kita terganggu. Padahal ketidaknyamanan akan selalu hadir di dalam hidup kita beriringan dengan kenyamanan, ibarat siang yang beriringan dengan malam. Ketika kita menolak ketidaknyamanan atau rasa sakit, hal itu akan terus mengusik kita. Oleh karena itu, kita perlu belajar menerima untuk dapat lebih menghadapi dengan tenang apapun yang akan menghampiri hidup kita.

ilustrasi-matahari_20160414_082426.jpg

Menerima atau berdamai dengan ketidaknyamanan bukan berarti kita menghapus, menghilangkan, atau melenyapkan ketidaknyamanan yang kita rasakan. Saat kita mampu menerima atau berdamai dengan ketidaknyaman, hal yang tidak nyaman tersebut masih ada namun intensitasnya berkurang atau tidak lagi dirasa mengganggu. Tahapan berdamai dengan ketidaknyamanan dimulai dengan mengakui ada rasa tidak nyaman di dalam diri. Tidak mudah bagi kita untuk mengakui keberadaaan hal-hal yang kita rasa tidak nyaman tersebut. Kemudian cobalah untuk menerima rasa tidak nyaman tersebut tanpa menilai dan menolaknya. Hingga kemudian tahap berikutnya adalah belajar menerima bagian diri yang masih belum bisa menerima ketidaknyamanan yang kita rasakan.

Melalui ketiga tahapan ini, kita akan merasakan bagaimana ketidaknyamanan yang masih ada tidak lagi terasa mengganggu. Jika kita bawa hal ini dalam kehidupan sehari-hari, maka kita akan lebih mampu menerima apapun yang akan kita hadapi dengan lebih tenang.

Saya menyadari ada bagian diri yang masih menolak rasa sakit”.

Dimas, Mahasiswa

Ketika belajar menerima dan berdamai dengan rasa sakit, saya merasa rasa sakit ini sudah seperti bagian dari diri saya, sehingga saya merasa hal ini tidak lagi mengganggu”.

Ardias, Mahasiswi

Saat mengakui rasa sakit, terasa semakin sakit, mungkin karena selama ini saya mengabaikan rasa sakit ini. Namun setelah menerima rasa, rasa sakit berangsur-angsur menghilang. Dan saat menerima diri, rasa sakit dan tidak sakit silih berganti. Mungkin rasa sakit itu muncul saat saya mengakui ada bagian diri yang belum menerima”.

I Rai, Mahasiswa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s