Melihat dengan Sadar

Minggu 3

Sabtu, 18 Februari 2017

Pukul 14.00-16.00 WIB

Di Charisma Consulting Yogyakarta

Melihat merupakan salah satu aktivitas yang pasti kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin sering kita melihat, biasanya kita menjadi kurang menyadari saat sedang melakukannya. Beberapa contoh melihat dengan kurang sadar yang dialami beberapa Sahabat Hening, yaitu:

Tidak sepenuhnya hadir dan memandang lawan bicara, seperti tidak berani menatap matanya dan sibuk dengan pikiran-pikiran yang muncul.

Saat akan makan, tidak menemukan nasi yang biasanya ada di ceting (bakul). Kemudian sibuk mencari-cari, padahal nasi sebenarnya sudah ada di tempat yang lebih terjangkau.

Seimages.jpgring kali kita melihat suatu hal berdasarkan pengalaman atau konsep yang sudah ada sebelumnya di dalam memori pikiran kita. Misalnya pengalaman salah satu Sahabat Hening yang tidak menemukan nasi dalam ceting (bakul). Berdasarkan pengalaman dan konsep yang kita miliki sebelumnya, bahwa tempatnya nasi adalah di ceting (bakul). Hal tersebut akhirnya membuat kita tidak menduga dan kurang menyadari bahwa nasi ternyata sudah tersedia di piring. Kita melihat dengan disibukkan oleh berbagai penilaian yang terbentuk dari pengalaman sebelumnya. Penilaian tersebut membuat kita tidak dapat melihat apa adanya.

Penilaian berawal dari apa yang kita lihat. Ketika kita melihat sesuatu, maka pikiran kita secara otomatis memberikan penilaian. Demikian juga perasaan-perasaan tertentu akan muncul beriringan dengan penilaian. Hal ini sangatlah wajar dan dapat membantu kita terutama pada situasi-situasi yang berbahaya, akan tetapi tanpa disadari kita akan semakin terbiasa dan sibuk menilai tanpa mengetahui yang sebenarnya terjadi. Misalnya ketika melihat rambut teman yang tampak berantakan dan wajah kucel, maka kita akan menilai dia belum mandi, malas, dst. Padahal, rambutnya tampak berantakan dan kucel karena dia baru saja menolong seseorang yang mengalami kecelakaan. Contoh lain saat melihat teman bernama X, ternyata alis matanya mengingatkan pada mantan pacar dan kita pun kemudian menghindari X. Kita cenderung kurang dapat memisahkan apa yang kita lihat dengan penilaian yang muncul saat melihatnya. Akan ada beberapa kemungkinan yang tertutup jika kita terlalu cepat melihat dengan penilaian. Pada contoh di atas, kita dapat kehilangan kemungkinan untuk menjalin networking atau kemungkinan lainnya.

Kecenderungan yang terjadi akibat dari penilaian kita adalah kita sering kali menggenggam erat apa yang kita nilai baik/kita sukai, dan menendang jauh-jauh apa yang kita nilai buruk/tidak kita sukai. Misalnya saat kita melihat bunga yang mekar di luar rumah, kita sulit untuk dapat melihat bunga secara apa adanya “Oh, itu bunga mekar berwarna merah”. Biasanya, kita melihat sekaligus menilai “Oh, itu bunga merah mekar. Bunganya indah. Saya menyukainya”. Sebaliknya, jika melihat bunga yang layu, pengalaman sebelumnya menuntun kita pada penilaian “Wah, bunganya layu. Tampak jelek ya. Saya tidak suka. Kenapa tidak dibersihkan/dirapikan ya, bla bla bla…”. Hal ini membuat kita kurang mampu menerima apapun yang terjadi dalam hidup kita dengan lebih terbuka.

Melihat dengan sadar berarti kita belajar untuk melihat sesuatu apa adanya tanpa memberikan penilaian. Belajar untuk menjadi pengamat dan melihat segala hal seolah-olah baru kita alami dan lihat saat itu. Seperti seorang anak kecil yang merasa antusias pada setiap hal yang ditemuinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s