“Hidup Berkesadaran”

Minggu 1: Bernapas dengan Sadar

Sabtu, 4 Februari 2017
Pukul 14.00-16.00
Di Charisma Consulting Yogyakarta

Sering kali kita berharap dengan hening atau meditasi, kita dapat mengosongkan atau menghilangkan pikiran yang ada di dalam diri. Sejatinya, kita tidak akan pernah dapat berhenti berpikir. Berbagai pikiran dan perasaan muncul silih berganti sesuai dengan pengalaman atau harapan. Melalui hening dan meditasi, kita dapat mengamati, melihat segala sesuatu dengan lebih jernih tanpa terlarut. Ibarat kita menonton televisi, seperti itulah ketika kita mampu melihat pikiran dan perasaan di dalam diri tanpa terlibat dan terlarut di dalamnya.

Just-Breathe-image.jpg

Melalui sesi hening bulan ini dengan tema Hidup Berkesadaran, kita akan belajar untuk menyadari dimulai dari menjadi pengamat bagi diri sendiri. Di tengah berbagai kesibukan, kita sering kurang menyadari apa yang sedang kita lakukan. Kita terbiasa beraktivitas secara otomatis. Misalnya saat makan, kita kurang menyadari makanan yang masuk. Malahan, aktivitas makan sering kita lakukan bersamaan dengan aktivitas yang lain, seperti mengobrol, posting atau sibuk melihat comment di MedSos, dll. Tanpa kita sadari, aktivitas makan berlalu begitu saja namun perut belum merasa kenyang. Contoh lain kita kurang menyadari momen saat ini, misalnya saat tubuh kita berada di kantor atau kampus, pikiran kita melayang-layang di kasur karena lelah dan ingin istirahat. Sebaliknya saat kita sudah berbaring di kasur, kita malah disibukkan dengan berbagai pikiran terkait deadline tugas. Hal ini tanpa kita sadari membuat diri merasa penat dan stres.

Belajar Hidup Berkesadaran adalah langkah awal untuk membantu kita lebih berada pada momen “di sini dan kini”. Ketenangan dan kebebasan dari stres bukanlah tujuan akhir, melainkan bonus yang kita dapatkan dari Hidup Berkesadaran. Berada pada momen “di sini dan kini” membuat kita lebih dapat menikmati apapun yang ada. Dimulai dengan menyadari hal yang paling lekat dengan hidup kita, yaitu napas kita. Berapa dari kita saat bangun tidur menyadari bahwa kita masih diberi kesempatan untuk bernapas? Sering kali kita memikirkan ‘agenda hari ini’ bahkan saat tubuh belum beranjak dari tempat tidur. Kita kurang menyadari bahwa kita masih dapat bangun dan dengan sadar menikmati setiap tarikan dan hembusan napas. Kita bangun dengan berbagai pikiran yang muncul. Sibuk berpikir, sibuk menganalisis. Padahal berbagai kemungkinan dapat tertutup ketika kita sibuk menganalisis dan kurang menerima apa adanya.

Biasanya kita hanya mau menerima hal-hal baik terjadi di dalam diri kita. Sedangkan, hal-hal yang kita nilai sebagai hal buruk sering kali kita tolak. Padahal, selayaknya pikiran yang datang dan pergi silih berganti, hal-hal yang kita nilai baik maupun buruk juga silih berganti.

Apapun keadaaan yang sedang dihadapi dan dialami, intinya cuma satu, bersyukur.

M. Rifqi, Mahasiswa

Pada momen saat ini, benar-benar menyadari pikirannya sedang ke mana dan apa yang dirasakan oleh kaki yang kesemutan. Benar-benar merasakan sebagai pengamat.

Maria Ratih Maharani, Psikolog

Menyadari  bahwa saat ini diri sedang dipenuhi berbagai perasaan, termasuk penolakan terhadap perasaan-perasaan itu.

Leonardus Dimas A., Mahasiswa

Baru kali ini dapat menerima ketidaknyamanan di kaki yang kesemutan, benar-benar menjadi pengamat. Ketidaknyamanan memang ada, namun tidak lagi mengganggu.

Annisa Poedji Pratiwi, Psikolog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s